Setelah tertunda dua tahun akibat pandemi Covid-19, pada 3-5 Februari 2023, Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (Subud) Indonesia akhirnya menggelar kongres nasionalnya yang ke-30 di Surabaya, Jawa Timur.
Kongres terakhir PPK Subud Indonesia digelar di Bandung, Jawa Barat pada Februari 2019, setahun sebelum pandemi. Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, kongres nasional seharusnya digelar setiap dua tahun. Namun, pada Maret 2020, kita tahu, Presiden Joko Widodo mengumumkan pembatasan kegiatan masyarakat yang berlaku secara nasional akibat pandemi Covid-19. Ibu Siti Rahayu Wirjohudojo kemudian menyarankan semua kegiatan Subud di seluruh dunia ditunda. Melalui sejumlah pertemuan koordinasi online, Ketua Umum PPK Subud Indonesia Pak M Ridwan dan Dewan Pembantu Pelatih Nasional menyetujui penundaan kongres selama dua tahun.

Kongres kali ini tentu menjadi special karena menjadi ajang pertama yang digelar setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dicabut pemerintah di akhir 2022. Ketentuan vaksinasi Covid-19 untuk menggunakan kendaraan umum tentu masih berlaku namun tidak ada pembatasan kegiatan indoor seperti tahun tahun sebelumnya. Warga pun sudah bebas bepergian, dan sebagian sudah mulai tidak mengenakan masker.
Meski demikian, karena usianya yang sudah sepuh, Ibu Siti Rahayu tidak bisa menghadiri kongres nasional kali ini. Dengan demikian, inilah kongres nasional pertama yang tidak dihadiri langsung oleh Ibu Rahayu. Latihan kejiwaan dan testing harus didampingi oleh DPPN langsung. Agenda ceramah kejiwaan bisa diisi dengan pemutaran video ceramah YM Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo dan video ceramah Ibu Rahayu.

Anggota Subud Bogor dan dua rantingnya, Subud Sukabumi dan Subud Sukamulia, tentu bersemangat menghadiri kongres ini. Berkat kegiatan enterprise yang cukup berhasil, Yayasan Subud Bogor bisa memfasilitasi anggota anggota yang ingin hadir dalam kongres. Seluruh biaya pendaftaran kongres untuk kelas gold (Rp 600 ribu per orang) ditanggung oleh dana kas Yayasan Subud Bogor. Sebanyak 30 anggota Subud Bogor, Sukabumi dan Sukamulia mendaftarkan diri menjadi peserta kongres.

Sebagian besar peserta kongres dari Bogor bersepakat untuk menggunakan kereta api menuju lokasi kongres di Surabaya. Ini lebih murah ketimbang menyewa bus atau naik pesawat. Biaya transportasi ditanggung oleh masing-masing peserta kongres, dari lokasi rumah masing-masing. Namun pengurus menegaskan bahwa subsidi bisa disediakan jika ada anggota yang membutuhkan. Seluruh proses persiapan rombongan Subud Bogor dikoordinasikan oleh Sekretaris Subud Bogor Pak Nana Pramana.
Tepat pada Kamis 2 Februari 2023, rombongan Subud Bogor bersiap berangkat dengan KA Airlangga dari Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Rombongan dari Sukabumi tiba dengan KRL Commuter Line dari Stasiun Bogor, setelah sebelumnya naik KA Pangrango sampai Stasiun Paledang, Bogor. Sementara rombongan dari Sukamulia naik kendaraan sendiri sampai Hall Subud Bogor, kemudian naik KRL ke Stasiun Senen. Tiket KA Airlangga ke Surabaya sudah dipesan sepekan sebelumnya dan semua rombongan bisa naik satu gerbong yang sama.




Rombongan tiba di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, pada hari yang sama, pukul 23.00 WIB. Perjalanan cukup melelahkan, namun semua merasa senang karena menghabiskan waktu bersama sama dalam sebuah perjalanan menuju perhelatan Subud Indonesia. Menyewa beberapa taksi online, rombongan tiba di Hall Subud Surabaya, di kawasan Manyar. Seperti sudah disepakati sebelumnya dengan pengurus Subud Surabaya, rombongan Subud Bogor diizinkan menempati sekretariat hall Surabaya sembari menanti dimulainya Kongres pada keesokan harinya.




Pada Jumat 3 Februari 2023, rombongan Subud Bogor langsung dijamu hidangan sarapan nasi pecel khas Surabaya, yang sudah dipesan sebelumnya. Para peserta kongres makan dengan lahap dan bersemangat karena akan menghadiri pembukaan Kongres Nasional beberapa jam lagi di Hotel Grand Empire Palace, di kawasan Tunjungan, Surabaya. Sembari menunggu jadwal pembukaan, para anggota kembali beristirahat dan menikmati kawasan hall Subud Surabaya yang asri.


Pada pukul 12.00 siang, kepala rombongan Subud Bogor, Pak Nana, memutuskan membawa seluruh peserta ke lokasi kongres, karena jadwal pembukaan adalah pukul 13.00. Namun, karena pendaftaran dan kunci kamar hotel belum tersedia, seluruh barang-barang peserta dititipkan di Hotel 88, yang menjadi lokasi penginapan peserta Subud Bogor.
Pembukaan berlangsung cukup khidmat, dan dihadiri sekitar 600 anggota Subud dari seluruh Indonesia. Mengambil tema “Menjalin Persaudaraan untuk Membangun Kemajuan Bangsa”, kongres ini diharapkan mengingatkan seluruh anggota Subud akan pentingnya menjaga kerukunan dan memberikan manfaat latihan pada lingkungan sekitar. Selain prosesi tarian “Joget Suroboyo” , pembukaan juga diisi pemotongan tumpeng raksasa yang menandai peringatan hari lahir PPK Subud Indonesia pada 1 Februari 1947. Tahun ini, Subud Indonesia sebagai organisasi genap berusia 76 tahun. Sebelumnya juga dilakukan pembacaan mukadimah AD/ART Subud Indonesia, dan dilanjutkan lantunan tembang Macapat Susila Budhi Darma.
Ketua Panitia Kongres, Pak Bagiyon, yang juga Konsilor Organisasi Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, menjelaskan bahwa selain kongres, peserta juga bisa menyaksikan pameran foto perjalanan dan biografi YM Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Semua dokumentasi itu menunjukkan perkembangan Subud sampai bisa ada di 86 negara di lima benua. YM Bapak Muhammad Subuh memulai perjalanan keliling dunia untuk memperkenalkan Subud pada 1957 (ketika beliau diundang ke Inggris) hingga akhir hayatnya di 23 Juni 1987.



Dalam sambutannya, Ketua Umum PPK Subud Indonesia, Pak M Ridwan mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali bertemu dengan seluruh anggota setelah terhalang selama dua tahun akibat pandemi. Ia menjelaskan bahwa Subud Indonesia kini ada di 33 cabang, 26 ranting dengan 7 Komwil. Di akhir sambutannya, Pak Ridwan menyatakan rasa terima kasih kepada YM Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang telah membuka jalan hingga umat manusia bisa mengikuti latihan kejiwaan.
Mewakili pemerintah hadir dalam pembukaan Kongres adalah Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Perguruan Tinggi, Ibu Christriyati Ariani. Dalam sabutannya, Ibu Christriyati mengucapkan selamat kepada PPK Subud Indonesia yang telah kembali melaksanakan Kongres Nasional. Dia menegaskan bahwa Subud telah resmi terdaftar di pemerintah sejak 1980.

“Kami yakin, perkembangan PPK Subud yang signifikan ini dikarenakan ajarannya yang toleran, tidak berdasar pada pokok ajaran agama tertentu dan tidak membeda-bedakan sehingga siapapun dapat menjadi anggota,” kata Ibu Christriyati. Dengan keanggotaan yang besar, Kemendikbud berharap Subud dapat turut serta membangun bangsa, dan menjaga serta mengupayakan kerukunan dalam keberagaman.
Selain itu, sebagai wakil Gubernur Jawa Timur, hadir Asisten Gubernur Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Bapak Benny Sampir Wanto. Dalam sambutannya sekaligus membuka Kongres, Pak Benny berharap Subud terus berkembang dan memberikan manfaat untuk masyarakat.


Di sela kongres, para PP dan pengurus Subud Bogor mengadakan pertemuan untuk membahas sejumlah perkembangan organisasi dan kejiwaan. Pertemuan menyepakati untuk segera melakukan pembaruan personel pengurus PPK Subud Bogor dan Yayasan Subud Bogor seusai kongres.





